Oleh: sitifasichah | Februari 24, 2009

BAHAN AJAR

Disampaikan pada Diklat Peningkatan Kualitas Guru Madrasah Tsanawiyah
Angkatan 3
Departemen Agama Prov Jateng dan D.I Yogyakarta
Tanggal 19 September 2008

Oleh:

Nurul Kamilati, M.Pd., M.Ed.
NIP. 150276773

DEPARTEMEN AGAMA
BALAI DIKLAT KEAGAMAAN SEMARANG
Jl. Temugiring Banyumanik Semarang

BAB I
PENDAHULUAN

Kenyataan yang terjadi di masyarakat, contohnya, seringkali terjadi peristiwa kekerasan oleh siswa baik di dalam maupun di luar sekolah. Sekolah tidak mampu berfungsi sebagai tempat sosialisasi dan pembudayaan berbagai kemampuan, watak, dan nilai. Hanya karena masalah sepele, yang belum jelas akar permasalahan, siswa mudah mengamuk atas nama kesetiakawanan. Sebenarnya, sebagai makhluk akademis mampu melakukan dialog sebagai sarana komunikasi efektif untuk mencari solusi. Peran bahasa, tentunya, sangat besar agar tidak terjadi kesalahpahaman yang mengarah kepada ketidakharmonisan dan pertentangan.
Kurikulum bahasa terus dikembangkan sesuai dengan tuntutan kebutuhan masyarakat. Hasil penelitian-penelitian bahasa terbaru mengarah kepada perlunya kajian bahasa yang bersifat filosofis dan membentuk paradigma baru dalam memaknai pengajaran bahasa. Hal ini merupakan konsekuensi dari ilmu bahasa yang juga memiliki sisi terapan (linguistik terapan). Pergeseran paradigma pengajaran bahasa menuju ke pengajaran bahasa yang menyiapkan siswanya untuk memiliki kompetensi agar dapat berpartisipasi dalam masyarakat moderen ini disebut oleh Kern (2000:15) sebagai pendekatan literasi. Pendekatan literasi dalam bahasa berkaitan dengan penggunaan pendekatan mengajar guru yang mengarahkan agar siswa dapat berpartisipasi aktif dalam masyarakat yang menuntut adanya berbagai kompetensi.
Pengambil kebijakan di bidang pendidikan telah mengupayakan terbentuk kurikulum berbasis kompetensi (Kurikulum 2004 dan Kurikulum 2006) yaitu kurikulum yang dirancang berorientasi pada pencapaian tujuan pendidikan nasional, yakni melahirkan manusia Indonesia yang berkualitas dan kompeten. Siswa dituntut aktif mengembangkan keterampilan untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Pendidikan berbasis kompetensi menekankan pada kemampuan yang harus dimiliki oleh suatu lulusan di jenjang satuan pendidikan tertentu. Kompetensi adalah pernyataan yang menggambarkan penampilan suatu kemampuan tertentu secara bulat yang merupakan perpaduan antara pengetahuan dan kemampuan yang dapat diamati dan diukur (Hall dan Jones, 1976: 29 dalam http://www.ditpertais.net/swara/warta) . Selaras dengan di atas, Terry (2001) menyebutkan bahwa istilah kompetensi mengacu kepada perilaku yang dapat diamati yang diperlukan untuk menuntaskan kegiatan sehari-hari dengan berhasil. Jika dilihat dari sudut pandang ini, maka hasil pembelajaran seharusnya juga dirumuskan sesuai dengan harapan pihak-pihak yang akan menggunakan lulusan sekolah sehingga rumusannya berhubungan dengan pekerjaan yang akan dipilih siswa. Amerika dan Australia telah lama menerapkan konsep ini dikenal dengan Competency-Based Language Teaching yang disingkat CBLT. CBLT didasarkan pada model rancangan kurikulum yang memperhatikan faktor efisiensi ekonomi dan sosial yang memberikan kemampuan kepada siswanya untuk dapat berpartisipasi secara efektif dalam masyarakat.
Kompetensi yang telah ditetapkan adalah kompetensi minimal yang harus dicapai oleh siswa. Artinya terdapat standar minimal kompetensi yang dikenal sebagai benchmark. Benchmark dalam bahasa digunakan untuk mengukur tingkat literasi siswa dalam bahasa. Literasi dapat diartikan kemampuan dalam bahasa atau kebisaan/ kemahiran berbahasa. Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional, dan global .
Indonesia telah memiliki kesamaan pandangan dengan negara-negara maju dalam kurikulum bahasanya. Ketegasan mengenai kompetensi apa yang perlu dikembangkan dan bagaimana mendefinisikan kompetensi inilah yang menandai perbedaan kurikulum ini dengan kurikulum sebelumnya. Kurikulum Berbasis Kompetensi berbeda dengan kurikulum pendahulunya dalam dua hal yang mendasar. Pertama, Kurikulum ini didasarkan kepada rumusan kompetensi komunikatif yang didefinisikan sebagai kompetensi wacana sebagai kompetensi utama dan, kedua, untuk mencapai kompetensi wacana tersebut digunakan pendekatan (pendidikan) literasi.
Namun, apakah hakekat kurikulum bahasa Indonesia telah sesuai dengan pendekatan literasi? Hal ini memerlukan pengkajian dan diskusi mendalam dari tinjauan filosofi baik kurikulum berbasis kompetensi dan bahasa Indonesia sebagai suatu ilmu.

B. Deskripsi Singkat
Mata diklat ini membahas tentang kurikulum mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP/MTs secara filosofi berdasarkan pendekatan literasi.

C. Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah mengikuti mata diklat ini diharapkan peserta diklat dapat memahami kurikulum mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP/MTs secara filosofi berdasarkan pendekatan literasi.

D. Tujuan Pembelajaran Khusus
Setelah mengikuti mata diklat ini diharapkan peserta dapat:
1. menjelaskan pengertian literasi.
2. menjelaskan pengertian literasi bahasa.
3. menjelaskan manfaat literasi bahasa dalam kehidupan sehari-hari.
4. menjelaskan landasan filosofi bahasa dan kurikulum bahasa berbasis kompetensi.
5. menjelaskan literasi bahasa dalam kurikulum 2006 mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP/MTs.

BAB II
LITERASI BAHASA

A. Makna Literasi
Berdasarkan asal kata literasi berasal dari kata literacy merupakan kata benda (bhs. Ing.) yang artinya melek huruf (Echols & Shadily, 1995:361) . Di dalam kamus Oxford Advanced Learner’s (1989:728), literacy disebutkan sebagai kemampuan membaca dan menulis. Berdasarkan kedua kamus tersebut literasi adalah kemampuan membaca dan menulis atau kemampuan menggunakan bahasa untuk membaca, menulis, berbicara, dan mendengar. Jadi literasi terkait dengan kepemilikan seseorang terhadap kemampuan berbahasa. Selanjutnya istilah literasi berkembang pengertiannya menjadi kemampuan membaca dan menulis seseorang pada tingkatan minimal digunakan untuk dapat berfungsi sebagai alat komunikasi atau kemampuan berbahasa seseorang yang pada suatu tingkatan tertentu ide-idenya dapat dikomunikasikan dan dipahami dalam suatu masyarakat yang literate sehingga orang tersebut dapat berperan dalam masyarakat tersebut.
Literasi secara luas tidak hanya terkait dalam bidang bahasa saja. Kita mengenal literasi sains, literasi matematika, literasi tekhnologi, dan informasi. UNESCO mendefinisikan literasi sebagai berikut:
“’Literacy’ is the ability to identify, understand, interpret, create, communicate, compute, and use printed and written materials associated with varying context. Lietracy involves a continuum of learning to enable an individual to achieve his or her goals, to develop his or her knowledge and potential, and to participate fully in the wider society.”

Sejalan dengan itu National Council of Teachers of English dan The International Reading Association memperluas pengertian literasi menjadi “The ability to read and write and use numeracy, to handle information, to express ideas and opinions, to make the decisions and solve problems, as family members, workers, citizens and lifelong learners.”
Berdasarkan pengertian literasi baik secara harfiah/ bahasa dan perkembangan istilah literasi sampai dengan saat ini, maka literasi sangat erat berhubungan dengan konteks masyarakat. Literasi yang dimiliki oleh suatu masyarakat sangat menentukan corak kehidupan masyarakatnya. Di negara maju telah memiliki standar literasi yang lebih tinggi daripada negara-negara dunia ketiga. Dengan demikian, tidak berlebihan jika dikatakan agar suatu negara mencapai derajat kemajuan dan kemakmuran yang lebih baik hendaknya meningkatkan standar literasi yang telah dimilikinya. Dengan kata lain, literasi bersifat dinamis. Suatu keniscayaan bagi suatu masyarakat untuk terus membangun masyarakat agar tercapai kehidupan yang lebih baik melalui literasi.

B. Literasi Bahasa
Literasi bahasa adalah literasi khusus dalam bidang bahasa. Literasi bahasa meliputi aspek yang terdapat dalam penggunaan bahasa tersebut. Bahasa adalah alat komunikasi. Di dalam bahasa terdapat berbagai macam kegiatan berbahasa yang secara garis besar dapat dibagi empat, yaitu: membaca, menulis, mendengar/ menyimak, dan berbicara. Keempat kegiatan tersebut harus memenuhi standar agar mencapai tujuan bahasa. Selain itu, bahasa juga berfungsi mengarahkan masyarakat penggunananya agar lebih sejahtera dalam hidupnya. Tidak berlebihan idiom “Bahasa menunjukkan bangsa”. Bangsa yang bermartabat adalah bangsa yang telah memfungsikan bahasa secara fungsional, kultural, dan informatikal, tidak sekedar gramatikal dan alfabetikal. Kemampuan berbahasa hendaknya memberikan peluang kepada pemakainya untuk lebih arif memandang hidup dan lingkungannya dan diimplementasikan dalam kehidupan.

C. Literasi Bahasa dalam Kehidupan Sehari-hari
Berdasarkan pengertian literasi baik secara harfiah/ bahasa dan perkembangan istilah literasi sampai dengan saat ini maka literasi sangat erat berhubungan dengan konteks masyarakat. Berikut ini beberapa contoh implementasi literasi bahasa dalam kehidupan sehari-hari.

1. Dalam bidang kesejahteraan
Seseorang yang telah literasi dalam bahasa (membaca, menulis, mendengar, dan berbicara) memperoleh peluang dan harapan hidup lebih baik. Terbentang di depannya kesempatan untuk meraih kebahagiaan hidup yang dapat diraih dengan menggunakan literasi bahasa sebagai modal dasar.

2. Dalam bidang kesehatan
Masyarakat literasi relatif lebih mendapatkan derajat kesehatan yang lebih baik daripada yang tidak literasi. Mereka telah mampu membaca berbagai informasi tentang perawatan kesehatan, penyakit menular, gizi, pengobatan, dan lain-lain. Mereka tidak sekedar membaca, namun menerapkan pengetahuan kesehatan ke dalam kehidupan.

3. Dalam bidang ekonomi
Seseorang yang memiliki hasrat dan kemampuan membaca dan menulis akan berkesempatan memperoleh prestasi. Kemampuan menulis tergantung dari berbagai pengalaman yang mampu dituangkan dalam bahasa tulis. Salah satu pengalaman diperoleh dari kegiatan membaca, mendengar, dan bercakap-cakap. Literasi bahasa yang baik dapat mendukung seseorang memperoleh pendapatn yang lebih baik sebagai sumber nafkah.

4. Dalam bidang harga diri
Seseorang yang literasi dapat mandiri dengan kemampuan yang telah dimilikinya, tidak tergantung kepada orang lain. Orang ini tidak mudah dibujuk bahkan ditipu oleh orang yang menyalahgunakan literasi yang telah dimilikinya. Sangat kecil kemungkinan bagi mereka mengalami tindak kejahatan karena illiterasi. Segala sesuatu informasi yang dimilikinya dapat disaring dan secara bijaksana digunakan bagi kebaikan diri dn lingkungannya. Tekhnologi pun dapat mereka gunakan sebagai sumber informasi, seperti: koran, internet, telepon seluler, dan lain-lain.

5. Dalam bidang keselamatan diri
Setiap barang memiliki spesifikasi dan kegunaan yang telah dicantumkan dalam kemasan. Bagi seseorang yang memiliki literasi, tentunya setelah membaca dapat bertindak bijak. Misalnya, helm berfungsi sebagai pengaman. Kapan helm dapat berfungsi sebagai pengaman? Tentunya bila pemakaiannya memenuhi aturan yang ditetapkan. Bila memakai helm secara sembarangan/ tidak sesuai aturan, maka helm tidak berfungsi sebagai pengaman kepala.

6. Dalam bidang ibadah
Penjelasan tatacara ibadah lebih rinci diulas dalam pembahasan yang menggunakan bahasa tulis. Bila seseorang tidak memiliki kemampuan memahami dengan cara membaca yang kurang baik, ia dapat mendatangi (mendengarkan) pengajian. Sang penceramah harus memiliki literasi dalam berbicara agar penjelasannya lebih mudah dipahami dan tidak menimbulkan penafsiran lain.

BAB III
FILSAFAT ILMU SEBAGAI LANDASAN FILOSOFI KURIKULUM BAHASA

A. Filsafat Ilmu dan Bahasa
Filsafat berasal dari kata bahasa Yunani philosophia yang berarti cinta kearifan/ kebenaran. Filsafat adalah pengetahuan tentang kenyataan-kenyataan yang paling umum dan kaidah-kaidah realitas serta hakekat manusia dalam segala aspek perilakunya. Filsafat ilmu adalah cabang dari ilmu filsafat. Bila filsafat adalah kegiatan berefleksi secara mendasar dan integral, maka filsafat ilmu adalah refleksi mendasar dan integral mengenai ilmu pengetahuan itu sendiri (Kunto Wibisono dalam Thoyibi, 1994) . Menurut The Liang Gie (1999), filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala segi dari kehidupan manusia. Perkembangan filsafat ilmu tergantung pada hubungan timbal balik dan saling pengaruh antara filsafat dengan ilmu. Terdapat tiga objek filsafat ilmu, yaitu: ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Pertama, ontologi adalah salah satu cabang filsafat yang membahas hakekat apa. Contoh ontologi adalah idealisme, materialisme, dualisme, dan pluralisme. Masing-masing memiliki pandangan tentang hakekat kebenaran. Selanjutnya, epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas sarana apa dan bagaimana cara-cara untuk mencapai pengetahuan dan bagaimana ukuran suatu kebenaran. Contoh epistemologi adalah rasionalisme, behaviorisme, empirisme, kritisisme, positivisme, dan fenomenologi. Filsafat bahasa, logika, matematika, dan metodologi merupakan unsur-unsur bagian dari epistemologi. Terakhir, aksiologi antara lain membahas nilai dari sesuatu dalam penerapan praktis. Hal ini terkait dengan dimensi ilmu sebagai proses dan sebagai produk .
Bahasa adalah ilmu, sehingga secara ontologi seorang guru harus mampu memahami hakekat bahasa dan hal lain yang terkait dengan bahasa. Bahasa dapat dimaknai secara sempit dan luas. Bila bahasa hanya dimaknai secara sempit, maka selesailah pembahasan bahasa sebagai alat komunikasi antar komunikator dan komunikan. Namun, bila diartikan secara luas terkait dengan fungsional dan kultural, harus ada pembahasan yang lebih mendalam.
Epistemologi bahasa sangat terkait dengan hakekat bahasa yang menjadi fokus pembahasan. Bahasa dimaknai sebagai alat komunikasi multidimensi, sehingga perlu dibicarakan bagaimana bahasa dapat menjadi alat komunikasi efektif. Sebagai alat komunikasi ilmiah, misalnya, bahasa merupakan alat untuk melakukan kegiatan ilmiah. Bahasa bersama dengan logika, matematika, dan statistika digunakan agar penarikan kesimpulan yang dilakukan dalam proses pengetahuan ilmiah bersifat shahih dan akurat.
Untuk melakukan kegiatan ilmiah dengan baik, salah satunya harus menguasai bahasa dengan baik karena bahasa merupakan sarana komunikasi ilmiah yang utama. Tanpa penguasaan tata bahasa dan kosakata yang baik akan sukar bagi seseorang untuk mengkomunikasikan gagasan dan argumentasi. Kenyataan sekarang, aspek yang menonjol dalam berbahasa adalah aspek kultural daripada aspek penalaran. Kemampuan menggunakan Bahasa Indonesia dalam aspek ilmiah masih sangat kurang, terutama dalam tulisan ilmiah. Hal ini disebabkan karena aspek penalaran dalam pengajaran bahasa yang kurang mendapatkan penekanan.
Selanjutnya secara aksiologi, bahasa harus mampu menjalankan fungsi dengan baik. Fungsi-fungsi bahasa sangat terkait dengan apa dan bagaimana kita memndang bahasa. Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi dan bahasa ilmu pengetahuan di Indonesia perlu dibahas secara mendalam peran dan fungsi yang telah dijalankannya selama ini.
Berdasarkan hal di atas pembahasan suatu ilmu secara filsafat bersifat fleksibel tergantung keadaan sosial kultural suatu masyarakat. Dengan semakin berkembangnya kehidupan masyarakat yang mengglobal, maka tuntutan agar bahasa lebih berperan dalam kehidupan semakin besar. Selain itu, pandangan-pandangan tentang siswa yang belajar secara psikologi juga sangat mempengaruhi filsafat ilmu bahasa. Kurikulum sebagai pedoman pokok pembelajaran sebaiknya terus berbenah agar siswa dapat lebih siap, adaptif, dan mandiri dalam lingkungan hidupnya kelak.

B. Latar Belakang Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa
Pengembangan kurikulum berbasis kompetensi mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia dilandasi oleh pertimbangan filosofis sebagai berikut:
1. Paham behaviorisme
Menurut teori ini manusia sangat dipengaruhi oleh kejadian-kejadian dalam lingkungannya karena lingkungan memberikan pengalaman-pengalaman . Behaviorisme menekankan pada apa yang dapat dilihat, yaitu: tingkah laku, tapi tidak memperhatikan apa yang terjadi di dalam pikiran karena tidak dapat dilihat, dianggap tidak ilmiah (Leahey & Harris, 1985) . Pelopor teori ini adalah Thorndike, Pavlov, Skinner, dan Watson. Ini berimpilkasi pada anggapan bahwa proses belajar bersifat mekanistik dan otomatik karena tidak membicarakan apa yang terjadi dalam diri siswa yang sedang belajar. Paham behaviorisme tidak digunakan lagi dalam pengajaran bahasa (penggunaan metode drill).
2. Paham Kognitivisme
Paham kognitivisme menjelaskan bahwa tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuannya . Paham kognitivisme ini membentuk paham kontruktivisme berdasar pada pendapat Bruner yang mengatakan bahwa pengalaman belajar melalui penemuan yang memungkinkan siswa memperoleh informasi dan keterampilan-keterampilan baru dengan memperhatikan ionformasi dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya.
Tabel berikut menjelaskan tentang perbedaan antara paham behaviorisme dan paham kognitivisme:
Tabel 1. Perbedaan antara Paham Behaviorisme dan Paham Kognitivisme
Aspek Paham Behaviorisme Paham Kognitivisme
Belajar Proses trial and error, adanya unsur yang sama antara masalah sekarang dengan apa yang pernah dijumpai sebelumnya. Penekanan pada pemahaman tentang apa yang dihadapi sekarang dengan masalah yang sebelumnya pernah dijumpai/ dipecahkan.
Proses Belajar Merupakan suatu mekanisme yang periferik dan terletak jauh di luar otak. Proses belajar terjadi internal di dalam otak dan meliputi ingatan dan pikiran.
Hasil Belajar Merupakan suatu kebiasaan dan ditekankan pada adanya urutan respons yang lancar. Hasil belajar sebagai suatu struktur kognitif dengan menekankan pada pengetahuan faktual.
Dimodifikasi dari Soekamto (1992).
Menurut paham konstruktivisme, pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Guru tidak akan mampu memberikan semua pengetahuan kepada siswa. Siswa harus mengkonstruksikn pengetahuan di benak mereka sendiri. Esensi dari teori konstruktivis adalah ide bahwa siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan apabila dikehendaki, informasi itu menjadi milik mereka sendiri.

3. Communicative competence
Terdapat banyak kritik yang timbul karena penerapan paham behavioristik dan kognitivisme dalam proses belajar mengajar sehingga pembelajaran, termasuk bahasa, menggunakan paham psikologi sosial . Menurut paham ini, proses belajar jarang terjadi dalam keadaan menyendiri tetapi melalui interaksi baik searah maupun dua arah yang menghasilkan perubahan tingkah laku. Perintis pendekatan ini adalah Michael Halliday dan Dell Hymes. Communicative competence, yaitu kompetensi berbahasa yang tidak hanya menuntut ketepatan gramatikal, tetapi juga ketepatan dalam konteks sosial. Pandangan itu kemudian mendasari pengembangan pendekatan komunikatif dalam pelajaran Bahasa Indonesia dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi.
Kompetensi komunikatif terdiri diri atas empat area kompetensi, yaitu: linguistic, sociolinguistic, discourse, dan strategic competences. Berikut ini penjelasan masing-masing kompetensi tersebut:
a. Linguistic competence, menjelaskan bagaimana menggunakan grammar, syntax, dan vocabulary dalam bahasa. Berupaya menjawab pertanyaan berikut: “Kata apa yang saya gunakan?”; Bagaimana saya memasukkannya dalam suatu kalimat?”.
b. Sociolinguistic competence, menjelaskan bagaimana menggunakan dan merespon bahasa secara tepat sesuai dengan situasi dan topik dan hubungannya dengan orang-orang yang terlibat dalam komunikasi. Berupaya menjawab “Kata dan kalimat apa yang tepat saya gunakan dalam situasi ini?”; “bagaimana saya mengekspresikan sikap tertentu (resmi, persahabatan)?”; Kapan saya melakukan itu?”; “Bagaimana saya mengetahui respon yang diberikan oleh lawan bicara saya?”.
c. Discourse competence, menjelaskan bagaimana menafsirkan bahasa dalam konteks yang lebih luas dan bagaimana kesatuan bahasa yang padu secara keseluruhan. Pendapat lain mengatakan bahwa discourse competence terkait dengan interaksi dalam percakapan, yaitu kemampuan berpartisipasi aktif dalam percakapan. Pertanyaan yang harus dijawab adalah “Bagaimana kata, frasa, dan kalimat ditempatkan bersama dalam suatu percakapan, pidato, email, artikel koran, dan lain-lain?
d. Strategic competence, menjelaskan bagaimana mengenal dan memperbaiki bagian-bagian dari wacana yang dikomunikasikan? Pertanyaan yang harus dijawab adalah “Bagaimana saya mengetahui telah terjadi miskomunikasi, baik dari saya atau dari lawan komunikasi saya?”; Apa yang harus saya katakan kemudian?”; “Bagaimana saya mengekspresikan apa yang harus saya katakan tentang sesuatu bila saya tidak mengetahui nama sesuatu atau kata yang tepat dalam kalimat yang saya gunakan?”.
Kompetensi komunikatif yang menjadi muara akhir pencapaian pembelajaran bahasa Indonesia pembelajarannya memiliki ciri sebagai berikut.
1. Makna itu penting, mengalahkan struktur dan bentuk.
2. Konteks itu penting, bukan item bahasa.
3. Belajar bahasa itu belajar berkomunikasi.
4. Target penguasaan sistem bahasa itu dicapai melalui proses mengatasi hambatan berkomunikasi.
5. Kompetensi komunikatif menjadi tujuan utama, bukan kompetensi kebahasaan.
6. Kelancaran dan keberterimaan bahasa menjadi tujuan, bukan sekedar ketepatan bahasa. Siswa didorong untuk selalu berinteraksi dengan siswa lain (Brown, 2001:45) .
Paham yang masih relevan diterapkan dalam pembelajaran bahasa adalah paham konstruktivisme (bagian dari kognitivisme) dan kompetensi komunikatif. Selanjutnya dalam pembelajaran bahasa dengan pendekatan literasi kedua paham ini yang akan dikembangkan.

BAB IV
Landasan Filosofi Kurikulum Bahasa Berbasis Kompetensi Mata pelajaran Bahasa Indonesia Berdasarkan Literasi

Kompetensi komunikatif hendaknya dikuasai oleh siswa. Kurikulum sebagai pedoman dalam kegiatan pembelajaran bahasa kita seharusnya telah memuat kompetensi komunikatif agar kemampuan berbahasa siswa dapat maksimal. Bagaimanakah kurikulum kita? Dewasa ini terdapat kecenderungan yang sedang berkembang di negara-negara maju adalah upaya mewujudkan pendidikan melalui pembangunan kemahiran wacana (literacy education). Tujuan literasi ini adalah agar setiap warga negara mampu berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahasa Indonesia juga mengikuti kecenderungan ini, pengajaran bahasa Indonesia diarahkan sebagai sarana pengembangan kemampuan berbahasa yang menjadikan siswa mandiri sepanjang hayat, kreatif, dan mampu memecahkan masalah dengan cara menggunakan kemampuan berbahasa Indonesianya.
Bila kita mencermati kurikulum bahasa Indonesia, berarti kita mempelajari keinginan para penyusun kurikulum. Dokumen kurikulum yang dibuat telah dilakukan berbagai pengkajian mendalam. Prinsip dasar pengembangan kurikulum 2006 adalah (1) Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya; (2) Beragam dan terpadu; (3) Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni; (4) Relevan dengan kebutuhan kehidupan; (5) Menyeluruh dan berkesinambungan; (6) Belajar sepanjang hayat; (7) Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah . Jelas, bahwa kurikulum 2006 yang selanjutnya dikembangkan di tingkat satuan pendidikan masing-masing harus memegang prinsip-prinsip dasar di atas. Artinya, Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) tiap mata pelajaran telah mendasarkan pada prinsip-prinsip di atas. Hal ini sejalan dengan latar belakang standar isi mata pelajaran bahasa Indonesia tingkat SMP/MTs sebagai berikut:
Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya .

Pengkajian kurikulum bahasa secara filosofis harus didasarkan atas pemahaman penyusunan silabus dan rencana pelaksanaan pemblajaran (RPP) mata pelajaran bahasa Indonesia. Silabus adalah pengembangan dari kurikulum 2006. RPP adalah rencana pembelajaran yang merupakan penjabaran dari silabus. Hubungan antar komponen dalam silabus dan RPP diharapkan lebih akurat menggambarkan bagaimana pendekatan literasi untuk mencapai kompetensi komunikatif dengan lebih baik. Aspek yang perlu mendapatkan perhatian adalah aspek (1) pendekatan, (2) pembelajaran, (3) pengorganisasian materi, dan (4) penilaian.

A. Aspek Pendekatan
Berdasarkan paham kontruktivisme, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru Guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru (baca: pengetahuan dan keterampilan) datang dari ‘menemukan sendiri’, bukan dari ‘apa kata guru’. Filsafat belajar yang mendasari pemikiran itu adalah konstruktivisme.
Pendekatan belajar yang berasaskan konstruktivisme antara lain
1. pendekatan kontekstual,
2. life-skills education,
3. pendekatan CBSA,
4. pendekatan inkuiri,
5. pendekatan pemecahan masalah
6. pendekatan proses,
7. pendekatan kuantum (Quantum Teaching and Learning),
8. authentic instruction,
9. pendekatan kooperatif, dan
10. work-based learing.
Ciri pembelajaran yang kontruktivistik telah antara lain berikut ini.
1. Perilaku dibangun atas kesadaran diri.
2. Keterampilan dikembangan atas dasar pemahaman.
3. Hadiah untuk perilaku baik adalah kepuasan diri, berdasarkan motivasi intrinsik.
4. Seseorang berperilaku baik karena dia yakin itulah yang terbaik dan bermanfaat bagi dirinya.
5. Pembelajaran bahasa dilakukan dengan pendekatan komunikatif, yaitu siswa diajak menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dalam konteks nyata.
6. Siswa menggunakan kemampuan berpikir kritis, terlibat penuh dalam mengupayakan terjadinya proses pembelajaran yang efektif, ikut bertanggung jawab atas terjadinya proses pembelajaran yang efektif, membawa skemata masing-masing ke dalam proses pembelajaran.
7. Pengetahuan yang dimiliki manusia dikembangan oleh manusia itu sendiri, dengan cara memberi makna pada pengalamannya. Oleh karena ilmu pengetahuan itu dikembangkan (dikonstruksi) oleh manusia sendiri, sementara manusia selalu mengalami peristiwa baru, maka pengetahuan itu tidak pernah stabil, selalu berkembang (tentative & incomplete)
8. Siswa belajar dari teman melalui kerja kelompok, diskusi, saling mengoreksi.
9. Hasil belajar diukur dengan berbagai cara dan dari berbagai sumber.
10. Pembelajaran terjadi di berbagai konteks dan setting .
Dengan dasar itu, pembelajaran harus dikemas menjadi proses ‘mengkonstruksi’ bukan ‘menerima’ pengetahuan. Dalam proses pembelajaran, siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar dan mengajar. Siswa menjadi pusat kegiatan, bukan guru.
Pembelajaran bahasa Indonesia di SMP/MTs diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia. Selanjutnya tujuan mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
1. Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis
2. Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara
3. Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan
4. Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial
5. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa
6. Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.
Pembelajaran sastra, secara umum akan menjadi sarana pendidikan moral. Kesadaran moral dikembangkan dengan memanfaatkan berbagai sumber. Selain berdialog dengan orang-orang yang sudah teruji kebijaksanaannya, sumber-sumber tertulis seperti biografi, etika, dan karya sastra dapat menjadi bahan pemikiran dan perenungan tentang moral. Karya sastra yang bernilai tinggi di dalammnya terkandung pesan-pesan moral yang tinggi. Karya ini merekam semangat zaman pada suatu tempat dan waktu tertentu yang disajikan dengan gagasan yang berisi renungan falsafi. Sastra seperti ini dapat menjadi medium untuk menggerakkan dan mengangkat manusia pada harkat yang lebih tinggi. Karya sastra tersebut dapat berupa prosa fiksi, puisi, maupun drama.
Mengikuti pandangan di atas, pengajaran bahasa Indonesia seharusnya dikembalikan pada kedudukan yang sebenarnya, yaitu melatih siswa membaca, menulis, berbicara, mendengarkan, dan mengapresiasi sastra yang sesungguhnya. Tugas guru adalah melatih siswa membaca sebanyak-banyaknya, menulis sebanyak-banyaknya, berdiskusi sebanyak-banyaknya. Artinya, guru harus menghindari pengajaran yang berisi pengetahuan tentang bahasa Indonesia (using the language, bukan talk about the language). Apa yang diajarkan seharusnya dekat dengan kebutuhan berbahasa Indonesia siswa.
Pengajaran bahasa Indonesia dijalankan melalui pendekatan komunikatif, pendekatan tematis, dan pendekatan terpadu. Pendekatan komunikatif mengisyaratkan agar pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar dan menengah diorientasikan pada penguasaan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi (bukan pembekalan pengetahuan kebahasaan saja). Pendekatan tematis menyarankan agar pembelajaran bahasa diikat oleh tema-tema yang dekat dengan kehidupan siswa, yang digunakan sebagai sarana berlatih membaca, mendengarkan, menulis, dan berbicara. Pendekatan terpadu menyarankan agar pengajaran bahasa Indonesia didasarkan pada wawasan Whole Language, yaitu wawasan belajar bahasa yang intinya menyarankan agar kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia dilaksanakan terpadu antara membaca, mendengarkan, menulis, dan berbicara. Dengan konsep itu, dalam jangka panjang, target penguasaan kemahirwacanaan itu bisa tercapai.
Ketika siswa masuk ke sekolah, sebenarnya mereka telah memiliki kemampuan berbahasa Indonesia. Tugas guru adalah meningkatkan kemampuan itu melalui kegiatan berbahasa Indonesia nyata, bukan mengajarkan ilmu tentang bahasa Indonesia. Hanya, yang terjadi kemudian adalah (1) guru lebih banyak menerangkan tentang bahasa (form-focus), (2) tata bahasa sebagai bahan yang diajarkan, (3) keterampilan berbahasa nyata kurang diperhatkan, (4) membaca dan menulis sebagai sesuatu yang diajarkan, bukan sebagai media berkomunikasi dan berekspresi.
Bila pembelajaran bahasa Indonesia hanya ditekankan pada tata bahasa, yang relevansinya dengan kebutuhan berbahasa kurang. Murid hanya menghafal jenis kata, pengertian kalimat, fungsi-fungsi awalan, dan beragam peribahasa usang. Sebaiknya, pengajaran bahasa Indonesia dikembalikan pada kedudukan yang sebenarnya, yaitu melatih siswa membaca sebanyak-banyaknya, menulis sebanyak-banyaknya, berdiskusi sebanyak-banyaknya. Misalnya, membaca berita, membaca cerpen, membaca iklan, menulis surat, menulis iklan baris, membuat laporan, mendengarkan berita, membacakan pengumuman, dan sejenisnya. Dengan demikian, mata pelajaran bahasa Indonesia menjadi menyenangkan karena menarik dan dirasakan manfaatnya oleh siswa. Jika tata bahasa harus diajarkan, sebenarnya hanya untuk menunjang kemampuan-kemampuan tersebut. Guru disarankan agar kembali berpegang pada sasaran tujuan pengajaran bahasa Indonesia, yaitu melatih siswa menggunakan bahasa Indonesia dalam situasi berbahasa nyata. Materi-materi yang tingkat kebergunaannya rendah, seperti teori tata bahasa umum dan pengetahuan tentang tata bahasa sebaiknya dikurangi.

B. Aspek Strategi Pembelajaran
Kegiatan belajar-mengajar bahasa Indonesia yang berupa tugas-tugas (task), input yang diterima siswa, dan pola interaksi guru—siswa ditujukan agar siswa dapat berbahasa Indonesia yang sesungguhnya. Agar pembelajaran bahasa Indonesia efektif, strategi belajar yang dikembangkan harus menunjang pencapaian tujuan itu. Strategi pembelajaran yang ideal semestinya mengarahkan siswa pada kegiatan menemukan sendiri. Dengan kata lain, keterampilan berbahasa yang diperoleh harus berasal dari pengalaman membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara dalam bahasa Indonesia. Strategi pembelajaran semacam itu dapat dipenuhi jika pendekatan pembelajarannya sesuai dengan yang dikembangkan guru. Untuk menyukseskan penerapan pembelajaran yang berbasis pengalaman (pendekatan kontekstual), skenario pembelajaran harus didesain sesuai dengan prinsip-prinsip pembelajaran kontekstual. Adapun ciri utama dari pembelajaran itu adalah latihan berbahasa terus-menerus dengan berbagai variasi, hingga siswa mampu meningkatkan kreativitasnya dalam berbahasa Indonesia.
Lalu, strategi pembelajaran yang bagaimanakah yang disarankan? Strategi apakah yang tepat digunakan agar kompetensi berbahasa Indonesia siswa bisa berkembang baik? Berikut ini, kajian sekilas mengenai pilihan strategi yang produktif dalam pembelajaran bahasa.
Dalam pengajaran bahasa Indonesia, praktik berbahasa melalui tugas-tugas berbahasa (task) menjadi basis utama pengembangan kompetensi berbahasa siswa. Pilihan strategi itu digambarkan dalam bagan berikut.

GOAL —> CONTENT —> EXPERIENCE —> EVALUATION
<————————————–

Bagan tersebut menempatkan pengalaman berbahasa sebagai sentral kegiatan belajar-mengajar bahasa. Negosiasi makna dalam bentuk pelatihan berbicara, membaca, menulis, dan mendengarkan berlangsung dalam suasana berbahasa nyata yang telah diorganisasikan oleh guru.
Pengkategorian teknik pembelajaran berbahasa lebih teknis dikemukakan oleh Pattison (1987). Ia membedakan tujuh tipe task, yaitu (1) pertanyaan dan jawaban, (2) dialog dan bermain peran, (3) kegiatan mencocokkan, (4) strategi komunikasi, (5) gambar dan menceritakan gambar, (6) puzzels dan masalah, dan (7) berdiskusi dan mengambil keputusan.
Agar tujuan tercapai, disarankan agar tugas-tugas (task) dan latihan dalam pembelajaran bahasa Indonesia dijalankan secara bervariasi, berselang-seling, dan diperkaya, baik materi maupun kegiatannya. Harus disadari benar oleh guru bahwa kegiatan berbahasa itu tak terbatas sifatnya. Membaca artikel, buku, iklan, brosur; mendengarkan pidato, laporan, komentar, berita; menulis surat, laporan, karya sastra, telegram, mengisi blangko; berbicara dalam forum, mewawancarai, dan sebagainya adalah contoh betapa luasnya pemakaian bahasa Indonesia itu.

C. Pengorganisasian Materi
Atas dasar pandangan belajar yang diuraikan dalam bagian terdahulu, bagaimanakah seharusnya materi pembelajaran bahasa Indonesia diorganisasikan?
Dalam mengorganisasikan materi, guru harus mempertimbangkan kriteria berikut:
1. Pengetahuan dan keterampilan berbahasa yang diperoleh, berguna dalam komunikasi sehari-hari (meaningful). Dengan kata lain, agar dihindari penyajian materi (khususnya kebahasaan) yang tidak bermanfaat dalam komunikasi sehari-hari, misalnya, pengetahuan tata bahasa yang sangat linguistis.
2. Kebutuhan berbahasa nyata siswa harus menjadi prioritas guru. Bahan-bahan pembelajaran disarankan bersifat otentik.
3. Siswa diharapkan mampu menangkap ide yang diungkapkan dalam bahasa, baik lisan maupun tulis, serta mampu mengungkapkan gagasan melalui bahasa.
4. Kelas diharapkan menjadi masyarakat pemakai bahasa Indonesia yang produktif. Tidak ada peran guru yang dominan. Guru diharapkan sebagai ‘pemicu’ kegiatan berbahasa lisan dan tulis. Peran guru sebagai orang yang tahu atau pemberi informasi pengetahuan bahasa agar dihindari.

D. Penilaian
Sejalan dengan prinsip belajar yang dikembangkan, penilaian dalam pembelajaran bahasa Indonesia diharapkan juga mendasarkan diri pada penilaian yang sebenarnya, yaitu Authentic Assessment. Authentic Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Gambaran tentang kemajuan belajar diperlukan di sepanjang proses pembelajaran, maka assessment tidak dilakukan di akhir periode saja (akhir semester). Kegiatan penilaian dilakukan bersamaan dengan kegiatan pembelajaran.
Landasan penilaian adalah pelaksanaan penilaian yang berkelanjutan, akurat, dan konsisten, sebagai bentuk akutanbilitas kepada publik, melalui identifikasi kompetensi/hasil belajar yang telah dicapai serta peta kemajuan belajar siswa dan pelaporannya kepada orang tua dan masyarakat. Prinsip yang mendasarinya adalah sebagai berikut.
1. Penilaian berorientasi pada pencapaian kompetensi.
2. Dasar pemikirannya, guru menilai apa yang seharusnya dinilai, bukan melulu mengukur pengetahuan siswa.
3. Proses penilaian berlangsung terus-menerus. Data nilai diambil dari berbagai sumber dan berbagai cara, tidak hanya hasil tes. Yang utama, guru menilai dari penampilan, kinerja, dan hasil karya siswa.
4. Penilaian menekankan pada proses dan hasil.
5. Penilaian dilaksanakan secara berkelanjutan dan komprehensif (mencakup semua aspek).
Sesuai dengan prinsip authentic assessment, kemampuan berbahasa Indonesia siswa diukur dengan berbagai cara dan dari berbagai sumber. Alat penilaian bahasa yang otentik yang disarankan adalah
1. Hasil Karya (Product): berupa karya sastra, laporan pengamatan, tulisan, benda, laporan perjalanan, puisi, artikel, essai, cerpen, karya ilmiah populer dll.
2. Penugasan (Project), yaitu bagaimana siswa bekerja dalam kelompok atau individual untuk menyelesaikan sebuah proyek
3. Kinerja (Performance), yaitu penampilan diri dalam kelompok maupun individual, dalam bentuk berbicara, berwawancara, kedisiplinan, kerjasama, kepemimpinan, inisiatif, dan penampilan di depan umum.
4. Tes Tertulis (Paper and Pencil Test), yaitu penilaian yang didasarkan pada hasil ulangan harian, semester, atau akhir program.
5. Kumpulan Herja Siswa (Portofolio), yaitu kumpulan karya siswa berupa laporan, gambar, peta, benda-benda, karya tulis, isian, tabel-tabel, dll.

BAB V
PENUTUP

Bahasa sebagai suatu ilmu dapat dikaji secara filosofi dalam kajian filsafat ilmu bahasa. Guru bahasa harus mampu memahami bahasa berdasarkan ontologi, epistemologi, dan aksioma agar tepat memberikan layanan pembelajaran kepada siswa. Berdasarkan filosofi, kurikulum berbasis kompetensi bahasa dapat dibahas dari paham behaviorisme, kognitivisme, dan communicative competence.
Literasi dapat berlangsung dalam bidang apa pun. Literasi bahasa adalah kemampuan membaca dan menulis seseorang pada tingkatan minimal digunakan untuk dapat berfungsi sebagai alat komunikasi atau kemampuan berbahasa seseorang yang pada suatu tingkatan tertentu ide-idenya dapat dikomunikasikan dan dipahami dalam suatu masyarakat yang literate sehingga orang tersebut dapat berperan dalam masyarakat tersebut.
Kemajuan suatu bangsa sangat tergantung pada pencapaian literasi bahasa. Literasi bahasa merupakan suatu kebutuhan mendasar agar siswa mampu bertahan hidup dalam lingkungan yang semakin menuntut kompetensi dalam segala hal. Kompetensi berbahasa dapat diwujudkan dengan kompetensi komunikatif dengan pendekatan literasi.
Pencapaian literasi dalam kurikulum dapat dengan memperhatikan silabus dan RPP sebagai pengembangan kurikulum dari pusat yang hanya berisi SK dan KD. Kajian terhadap ketercapaian literasi dapat melihat aspek pendekatan pembelajaran, aspek strategi pembelajaran, aspek pengorganisasian materi, dan aspek penilaian.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: